Jumat, 23 September 2011

Perhitungan Upah Borongan Per Komponen

Didalam mempertahankan produktivitas hasil kerja Karyawan adalah gampang-gampang sulit. Gampang bila semua pekerjaan tersebut dikerjakan dengan mekanisasi dan serba otomatis. Gajinya besar, kesejahteraan yang diterima cukup dan mayoritas Karyawannya berpendidikan tinggi (walaupun bukan jaminan 100% untuk mempertahankan produktivitas).

Sulit bila semua pekerjaan atau sebagian pekerjaan dikerjakan secara manual (semi mekanisasi). Apalagi gaji Karyawannya rendah, kesejahteraan kurang dan mayoritas Karyawannya berpendidikan rendah sampai dengan menengah. Menurut pengalaman pribadi, berbagai macam bentuk pelatihan ketrampilan dan motivasi yang telah diberikan kepada mereka, biasanya bisa menaikkan produktivitas kerjanya. Tapi tidak bisa bertahan lama. Paling setelah 2 atau 3 bulan kembali kebudaya kerja semula.

Salah satu alternatif solusi yang pernah kami lakukan untuk mempertahankan produktivitas kerja Karyawan, adalah 'upah borongan hasil kerja' per komponen (walaupun tidak terlalu akademis), tidak ada salahnya kalau dicoba atau sekedar dijadikan pembanding. Model upah kerja borongan ini selain bisa diberlakukan pada industri furniture, juga bisa diterapkan pada industri yang lain. Misalnya industri elektronik, industri peralatan rumah tangga, industri alat olah raga, industri perakitan sepeda dll industri pabrikan yang sudah lama beroperasi. Jadi bukan Perusahaan yang baru berdiri. Tapi kalau mau dicobakan pada Perusahaan yang baru, justru lebih mudah pelaksanaannya. Karena calon Karyawan sebelum direkrut sudah dijelaskan bahwa sistem pengupahannya adalah borongan. Jadi sudah ada kesepakatannya sebelum bekerja.

Upah kerja borongan sebenarnya tidak merugikan Karyawan, bahkan bisa meningkatkan pendapatan Karyawan yang kerja produktiv dan bisa mendapat tambahan berupa  bonus produksi. Selain itu bisa mempertahankan kelangsungan hidup Perusahaan karena order kerja yang diterima selalu bisa selesai tepat waktu bahkan bisa selesai lebih cepat. Intinya model upah kerja borongan ini adalah menggunakan jam kerja dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan kerja. Bukan untuk kepentingan yang lain. Sehingga waktu kerja yang terbuang menjadi  sangat rendah. 

Jenis pabrikan yang kami pakai contoh kali ini adalah industri furniture eksport yang mudah untuk dijelaskan tiap komponen produknya. Sedangkan untuk jenis industri yang lain, tinggal menyesuaikan saja dengan rumus-rumus yang ada di postingan ini.

Contoh Gambar Satuan Komponen Furniture
Langkah pertama : lakukan pengamatan dan pencatatan tiap hasil kerja per satuan komponen tanpa sepengetahuan para pekerja. Pencatatan hasil kerja bisa dilakukan tiap akhir hari kerja (7 jam/hr) atau tiap akhir pekan (40 jam kerja/minggu). Tugas pencatatan bisa dilakukan oleh Kepala Regu masing-masing atau membentuk Tim evaluasi gabungan dari beberapa Departemen lain selama 3 bulan berturut-turut agar sampling data yang didapat bisa lebih valid.

Selama melakukan pencatatan jangan memberi perintah atau menegur pekerja, agar hasil kerja yang didapat bisa alami mewakili kondisi yang sebenarnya. Jajaran Leader di Bagian setempat agar bersedia membantu atau bekerja sama dengan Tim Evaluasi ini.

Bagian kerja yang perlu dilakukan evaluasi terlebih dahulu adalah bagian yang paling hulu dari semua alur proses produksi. Karena bagian ini adalah merupakan feeder pertama yang menentukan hasil kerja bagian selanjutnya. Didalam industri furniture namanya adalah bagian pembahanan (Rough Mill). Sebenarnya masih ada yang lebih awal lagi yaitu Bagian pengadaan (Purchasing) Raw Material, Gudang Bahan dan Open Pengering. Tapi sebagai uji coba, kita mulai dari bagian pembahanan dulu. Selanjutnya bisa diterapkan ke bagian sebelumnya dan bagian berikutnya yaitu : Processing, Sanding, Assembling, Finishing, Packing dan Loading (ke continer).

Langkah kedua : mengolah data yang didapat selama 3 bulan (12 minggu) dari hasil kerja Tim Evaluasi tiap komponen jenis produk. Hasilnya dikonversi dengan satuan waktu kerja per hari, per jam dan per menit. Dijumlahkan lalu dibuat rata-rata waktu kerja per komponen. Contohnya adalah sbb :

Contoh Data Hasil Kerja TIM Evaluasi Sebelum Borongan
Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa waktu hasil kerja bagian pembahanan rata-rata per orang per satuan komponen adalah hampir 3 menit. Sebenarnya hasil kerja tersebut masih bisa lebih cepat lagi karena pekerjaan di bagian tersebut tidaklah sulit (pekerjaan kasaran) dan selalu menggunakan alat atau mesin.

Tapi tidak apalah. Tetap kami anggap 3 menit per komponen per orang. Dengan data ini kita bisa mengkonversi waktu tersebut kedalam upah minimum propinsi (UMP) setempat. Misalnya UMP setempat Rp. 1.200.000,-/bulan. Berarti bisa di analisa menjadi upah per hari, per jam dan per menit.

Contohnya adalah sbb :
  1. Per hari    : Rp.1.200.000 : 30hari    = Rp. 40.000,-
  2. Per jam    : Rp.     40.000 :   7jam    = Rp.   5.714,-
  3. Per menit  : Rp.       5.714 : 60 menit = Rp.       95,-
Jadi harga borongan per komponen di Bagian Pembahanan adalah : 3 menit x Rp. 95,- = Rp. 285,- Kalau masing-masing Karyawan di Bagian Pembahanan bisa menyelesaikan pekerjaan per komponen lebih cepat, misalnya dari 3 menit menjadi 2 menit, upah borongan yang didapat sbb :
  1. Per jam  : 60 mnt   :   2  mnt =       30  komponen
  2. Per hari  :   7 jam :x  30 kom=     210 komponen
  3. Per bln   : 25 hr    x 210 kom= 5,250 komponen
  4. Pendapatan/ bulan : 5.250 x Rp.285,- = Rp. 1.496.250,-
  5. UMP /bulan = Rp. 1.200.000,-
  6. Selisih lebih  = Rp. 1.496.250 - 1.200.000 = 296.250
Selisih lebih ini bukan hanya menguntungkan Karyawan saja, tapi juga Perusahaan, karena yang dibayarkan adalah real hasil kerja. Bukan waktu kerja. Kalau waktu kerja yang dipakai untuk dasar pembayaran gaji, akibatnya lose time Karyawan juga ikut dibayar. Disamping itu, bagi Perusahaan aman dari date line pengiriman barang (Pengapalan). Aman dari pinalty pembayaran. Jadi dalam solusi ini (saya kira) dapat menguntungkan kedua belah pihak, antara Pengusaha dan Pekerja.
Contoh Bagan Alur Kerja Dept. Produksi
Perhitungan diatas hanya murni normal day (non shift) pada jam kerja saja. Belum termasuk hasil kerja pada jam lembur. Kalau Pekerja mau menambah jam kerja (lembur) 2 jam saja, tentu hasilnya jauh lebih besar lagi.
Sedangkan kalau ada listrik mati atau kerusakan mesin atau sebab lain yang diluar kemampuan Pekerja, sehingga hasil kerjanya tidak bisa maksimal, pendapatan pada hari itu dianggap sama dengan UMP/hari. Karena Peraturan Pemerintah melarang Perusahaan  membayar gaji Pekerja dibawah UMP.

Untuk memulainya, tentu saja harus mendapat persetujuan Manajemen Perusahaan atau Ownernya terlebih dahulu, lalu dibicarakan dengan Serikat Pekerja setempat. Yang penting tidak merubah status Pekerja dan tidak mengurangi upah pekerja. Bahkan program ini justru menambah penghasilan Pekerja.

Kalau pembicaraan dengan Serikat Pekerja juga telah mendapat kesepakatan, mulailah dengan uji coba 3 bulan terlebih dahulu. Kalau setelah uji coba, dirasa menguntungkan kedua belah pihak dan tidak menimbulkan keresahan, baru diberlakukan secara permanent.

Strategi memulainya perlu dipertimbangkan untuk mengevaluasi jumlah tenaga kerja yang ada di Bagian Pembahanan (karena memulainya dari Bagian ini dulu). Kalau perubahan budaya kerja dari upah waktu kerja ke upah borongan bisa diterima dengan baik, tidak perlu melakukan tindakan apa-apa. Tapi kalau gelagatnya diterima dengan setengah hati, perlu diambil kebijakan sbb ;
  1. Kepala Regu, Kepala Seksi dan Kepala Bagian agar bersama-sama  menyeleksi Karyawan dibawahnya yang kurang cakap, untuk dipindahkan ke Bagian lain. Bukan untuk di PHK tapi justru nantinya untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang datang dengan begitu derasnya dari hasil kerja borongan. Sedangkan yang dirasa cakap, dipertahankan di bagian pembahanan untuk dipersiapkan sebagian untuk Trainer orang borongan baru dan sebagian sebagai QC (Quality Control) internal pembahanan.
  2. Rekrut Pekerja baru dengan status borongan dengan jumlah sebanyak yang dipindahkan ke bagian lain.  Beri pelatihan ketrampilan sesuai dengan standard yang ditetapkan dan berikan induksi tentang keselamatan kerja.
  3. Apabila jumlah Pekerja yang dipindahkan dari Bagian Pembahanan cukup banyak, mutasikan ke masing-masing Bagian secara merata atau tergantung kesanggupan Kepala Bagian untuk menerimanya. Misalnya setelah Bagian Pembahanan ada 6 Bagian lagi yaitu : Processing, Sanding, Assembling, Finishing, Packing dan Loading, maka masing-masing Bagian mendapat jatah orang mutasian mulai dari  15% s/d 20%. Sehingga tidak terlalu berat membebani anggaran masing-masing Bagian yang ketempatan.

Contoh Gambar Proses Assembling
Selanjutnya apabila setelah berjalan 6 bulan dan di evaluasi secara menyeluruh menunjukan hasil positip untuk kedua belah pihak, maka Bagian berikutnya bisa dilakukan dengan strategi yang sama. Dan seterusnya sehingga semua Bagian dapat diberlakukan dengan sistem pengupahan yang sama. Dengan produktifitas kerja Karyawan yang bisa dipertahankan bahkan bisa ditingkatkan, diharapkan Manajemen Perusahaan bisa mengeluarkan Bonus dan kesejahteraan tambahan kepada Karyawan.
Contoh  Hasil Kerja Pembahanan Upah Borongan
Selanjutnya perlu dipertimbangkan, untuk Karyawan yang sudah lama mengabdi di Perusahaan dan mempunyai kecakapan yang baik, dipromosikan menjadi  Petugas QC pada kelompok kerja masing-masing. Karena dengan sistem kerja borongan dikhawatirkan qualitas hasil kerja menjadi rendah. Untuk itu harus di imbangi dengan Petugas QC yang cukup. Tapi tidak perlu rekrut orang baru dari luar. Cukup dari dalam saja untuk perbaikan jenjang karier Karyawan. Ini hanya sekedar saran saja.
Contoh Hasil Kerja Borongan Finishing

Kepada rekan-rekan yang sudah senior atau siapa saja yang tertarik dengan tulisan ini, tolong dikoreksi, diberi saran, atau tambahan sehingga bisa lebih bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. 

* Bila ingin belajar cara membuat tepung mocaf sendiri, coba KLIK DISINI.


3 komentar:

Sammyr MG mengatakan...

Sungguh menginpirasi

Arif Rahman mengatakan...

terima kasih,
kebetulan lagi nyari perhitungan upah buruh untuk instalasi mesin sewing.

sangat membantu saya pak, terima kasih :)

law original mengatakan...

enak aja lo klo ngoceh..kamu tidak fikirkan faktor penyesuaian dan kelonggaran pekerja,gak perlu pakai sistem upah borongan,sebelum bikin suatu corp orang yg hebat udah pikirkan faktor tsb. dan lagi ,,,pekerja yang berkerja dibagian inti produksi harussss jadi karyawan permanen,,,ilmu teknik industri gak ada begitu,,semua harus dipikirkan.mulai dari teknik tata cara kerja,sistem kerja sampai ke kausal per undang2an tenaga kerja..jadi ga ada kata "enak dipengusaha,gak enak dipekerja" tk

Poskan Komentar